Irwan Bajang, Negosiasi Penulis Terbitkan Kisah

Di tengah keriuhan Yogyakarta, ada suara lirih, tetapi gigih yang bersumber dari sebuah inisiatif bernama Independent School (Sekolah Independen). Di balik inisiatif ini, berdiri seorang pemuda dengan tatapan mata yang menyimpan api semangat literasi bernama Irwan Bajang.

Irwan, tidak menyangka jalur diplomasi Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta akan membawanya kepada peta dunia penerbitan indie. Ia memulai segalanya pada tahun 2011.

Jangan bayangkan gedung megah atau birokrasi rumit. Pikirkan saja sebuah tempat, bisa jadi sudut kafe atau ruang sederhana. Bahkan pelataran kampus yang teduh. Di tempat ini, Irwan bersama kawan-kawan sejiwanya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang mulia, yakni mengajarkan seluk-beluk dunia tulis-menulis dan penerbitan secara cuma-cuma.

Sebuah Pemberian Tanpa Pamrih


Ada keindahan tidak terperi dalam konsep cuma-cuma itu. Bukan sekadar gratis, melainkan sebuah pemberian tanpa pamrih yang melampaui hitungan untung rugi.

Irwan dan rekan-rekannya menyentuh berbagai lapisan, mulai dari siswa SMP yang baru meraba-raba kata, mahasiswa yang sedang berjuang menemukan suaranya, hingga berbagai komunitas yang rindu untuk bercerita.

Mereka tidak hanya berbagi ilmu teknis tentang bagaimana merangkai paragraf atau mengurus ISBN. Lebih dari itu, mereka menanamkan keyakinan bahwa setiap orang berhak memiliki kisah yang didengar.

Dalam setiap kelas yang mereka adakan, saya membayangkan Irwan duduk, bukan sebagai guru yang menggurui, melainkan sebagai seorang fasilitator.

Perkawinan Kreatif, Sekolah dan Penerbitan

Yang membuat gerakan Irwan Bajang ini begitu menarik dan layak menjadi juara mungkin berada pada kategori keberanian dan orisinalitas ide, yakni konsep yang ia usung tentang mengawinkan wadah pendidikan dengan wadah penerbitan.
Sekolah ini punya sayap penerbitan Indie Book Corner. Konsepnya, menggabungkan antara sekolah atau wadah pendidikan dengan wadah penerbitan. Sehingga perkawinan kedua hal itu melahirkan kreativitas yang baik. (Irwan Bajang)
Ini bukan sekadar link and match yang biasa. Ini adalah sebuah ekosistem. Bayangkan saja, ketika seseorang belajar di kelas, naskah digodok, lalu tanpa perlu berkeliling mencari pintu penerbit yang sering kali tertutup rapat, naskah itu sudah memiliki ‘rumah’ sendiri.

Indie Book Corner bukan hanya tempat mencetak buku, tetapi juga laboratorium tempat teori diubah menjadi praktik, tempat mimpi penulis pemula diinkubasi hingga akhirnya menjadi wujud nyata di tangan pembaca.

Konsep ini menyelesaikan masalah klasik penulis pemula, yakni kesulitan menembus penerbit besar dan kebingungan setelah naskah selesai. Irwan Bajang, dengan cerdik dan berani, memangkas rantai frustrasi itu. Dia menciptakan jalur yang mulus dari ide menjadi buku dan dari siswa menjadi penulis.

Warisan dan Makna

Irwan Bajang, Negosiasi Penulis Terbitkan Kisah

Apa yang Irwan Bajang lakukan bersama Independent School dan Indie Book Corner jauh melampaui sekadar bisnis penerbitan atau lembaga kursus biasa. Ini adalah Gerakan Literasi Mandiri.

Irwan menawarkan keteduhan dan kepastian di dunia literasi yang sering kali terasa riuh dan kejam. Ia membuktikan bahwa pendidikan terbaik tidak harus mahal, dan bahwa proses kreatif akan mencapai puncaknya ketika ia memiliki saluran yang pasti untuk berekspresi.

Irwan Bajang, pemuda yang memilih untuk mengabdikan diri pada kata-kata, telah menunjukkan kepada kita bahwa yang dibutuhkan oleh sebuah ide cemerlang hanyalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk memberi.

Di persimpangan antara sekolah dan penerbitan, lahir sebuah energi kreatif yang tidak pernah padam. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang lulusan Hubungan Internasional, alih-alih bernegosiasi antarnegara, memilih untuk bernegosiasi dengan setiap penulis di Indonesia, mengajak mereka untuk menerbitkan kisah mereka sendiri. Sebuah warisan yang begitu indah.

Satukan Gerak, Terus Berdampak. Kiranya semangat inilah yang mendasari langkah demi langkah yang Irwan Bajang miliki. Pada tahun 2014, Irwan Bajang menjadi salah seorang penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bidang pendidikan dengan judul kegiatan Si Penular Virus Menulis. 

Sumber:
  • Akun Instagram @irwanbajang
  • E-Booklet 15th SIA 2024
  • Jogja, T. 2019. Menularkan Virus Menulis ala Pendiri Indie Book Corner https://kumparan.com/tugujogja/menularkan-virus-menulis-ala-pendiri-indie-book-corner-1rOgdmKCGXb/3
#kabarbaiksatuindonesia
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url