5 Hal Penting Sebelum Belajar Menulis Cerita Anak

Ketika kita tertarik untuk menulis cerita anak, itu artinya kita harus siap belajar sebab menulis cerita genre apapun, termasuk cerita anak, yang bisa jadi di luar kebiasaan kita tentu harus disertai dengan upaya belajar keras.

Namun sering kali proses belajar itu tidak bertemu cara yang tepat, sehingga seorang penulis cerita anak pendatang baru, hanya berputar-putar pada kesalahan yang sama.

Cerita Anak Sesuai Target Usia


belajar-menulis-cerita-anak


Bagaimana tips belajar menulis cerita anak agar tulisan cerita anak yang dihasilkan sesuai dengan target pembaca? Berikut ulasan selengkapnya, ya!

1. Belajar pada ahlinya


Saat ini sudah banyak kelas menulis cerita anak yang membuat para penulis cerita anak senior turun gunung. Hal ini jauh berbeda sekitar 10 tahun yang lalu saat saya memulai rekam jejak kepenulisan. Saat itu, sang mentor sepertinya sedang hibernasi.

Memang banyak senior yang menurunkan ilmu itu artinya kita akan “ketiban” banyak informasi karena pengalaman unik mereka.

Di sini posisi kita bukan untuk membandingkan dengan maksud melebih-lebihkan yang satu di atas yang lain sebab apa yang mereka sampaikan jelas berdasarkan pengalaman masing-masing. Tentu tak akan ada yang sama 100%, bukan?

2. Belajar sesuai waktunya


Perhatikan lagi momen belajar yang kita ambil. Misalkan kita sedang mengerjakan banyak tugas online atau offline, ya jangan ambil kelas lagi sehingga fokus tidak terpecah.

Apalagi jika kelas yang kita ikuti harus mengeluarkan kocek lumayan. Tentu sangat disayangkan jika kita masuk kelas hanya sekadar absensi lalu setelah kelas berakhir kita hanya bisa gigit jari.

3. Belajar sesuai bujetnya


belajar-menulis-sesuai-bujet


Kelas menulis cerita anak ada beragam. Biaya pendaftaran juga bervariasi sesuai dengan a benefits yang diberikan.

Seorang penulis cerita anak perlu mempertimbangkan hal ini sebelum mengikuti kelas.

Jika kita terkendala mengikuti kelas berbayar, masih ada banyak video tentang cara menulis cerita anak yang diunggah kreator konten di YouTube dan media sosial.

Memang berbeda sensasinya jika kita membaca atau menonton tanpa interaksi langsung dengan mentor. Namun tak mengapa, karena secara dasar, ilmu menulis cerita anak itu sama.

4. Tidak belajar pada banyak kelas dalam satu waktu


Hal ini terjadi pada saya beberapa waktu yang lalu. Saat itu saya sudah mendaftar di satu kelas. Namun kelas itu masih lama dimulai. Ternyata dalam masa penantian kelas, tanpa sengaja saat scroll media sosial saya menemukan iklan kelas online dengan biaya minimal dan mentor idola.

Gawat! Saya tidak bisa menahan diri untuk mendaftar. Alhasil saat kelas kedua dimulai saya tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugas karena masih terikat dengan tugas-tugas di kelas pertama.

Tentu hal ini sangat tidak efektif. Selain rugi biaya, rugi waktu, dan juga tentu saja tidak menghasilkan apapun dalam progres perjalanan kepenulisan saya.

Jadi, pertimbangkan dengan sungguh-sungguh sebelum melunasi biaya kelas dan jangan sam[ai tergoda untuk mengikuti kelas lain jika sudah mendaftar di kelas sebelumnya, ya.

Saya yakin ini sulit karena sudah pernah mengalami, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk terus berusaha. 

5. Pertimbangkan apakah ada waktu untuk mengerjakan tugas


belajar-menulis-sesuai-waktu


Tak semua kelas hanya memberikan materi, ada juga yang memberikan tugas yang harus dikerjakan dalam jangka waktu tertentu. Nah, jika melihat pada poin sebelumnya, yakni saat kita memutuskan untuk mengikuti banyak kelas dalam satu waktu, bukan tidak mungkin kita tidak akan dapat mengerjakan tugas dengan maksimal.

Ohya, pertimbangkan juga untuk tidak mengambil kelas di saat rutinitas pekerjaan sedang padat. Saya pernah punya pengalaman mengambil kelas saat akreditasi Rumah Sakit tempat saya bekerja. Malangnya, saya memaksakan diri untuk mengikuti kelas senilai setengah juta rupiah. 

Saya takut ketinggalan teman lain untuk mendaftar karena kuota yang dibuka sangat terbatas, tetapi saya lupa memprediksi bahwa kelas serupa itu sering berulang dalam beberapa batch. 

Benar saja. Saya tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan. Uang sekian itu yang tentu sangat berharga dan sayang terbuang sia-sia, harus saya relakan.

Jadi, memang hal ini harus sobat pertimbangkan sebelum mengikuti kelas, ya. Jangan sampai apa yang sobat harapkan menjadi angan-angan saja karena emosi sesaat. 

Penutup


Menulis cerita anak memang tantangan tersendiri. Cerita yang ditujukan bagi pembaca cilik itu bukan satu genre tulisan yang bisa dibuat sekadarnya. Ada nilai edukasi yang tidak boleh tercemari dengan hal-hal di luar peraturan yang berlaku.

Jika menulis cerita anak sudah diambil sebagai salah satu genre favorit, jangan berhenti untuk terus belajar menulis cerita anak

Jangan sampai melewatkan 5 hal penting yang harus dipertimbangkan sebelum belajar menulis cerita anak, ya!

Apakah sobat sudah pernah belajar menulis cerita anak? Yuk, bagikan cerita lengkapnya di kolom komentar!
Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com Selain di sini, saya juga menulis di Rekam Jejak Sang Pemimpi, Ketika Jejakku Menginspirasimu, Berlayar & Menambatkan Impian, Meniti Jembatan Impian, Jejak Inspirasi Sylviany, Cakrawala Baca Sylvia

13 komentar untuk "5 Hal Penting Sebelum Belajar Menulis Cerita Anak"

  1. Salah satu yang masih usaha buat dikendalikan itu kalo ada banyak kelas berdekatan dan topiknya bagus-bagus semuaaa. Ini dilema banget karena kan enggak selalu ada yang topik kelas yang dibutuhkan. Sekalinya ada sering kali berdekatan, alhasil harus memilih sesuai kebutuhan biar bisa fokus

    BalasHapus
  2. Meski sederhana, nulis cernak gampang-gampang susah. Harus pas dengan target pembacanya. Bahasanya juga harus mudah dipahami usia mereka. Lama banget nggak nulis cernak.

    BalasHapus
  3. Belajar sesuai budget..belajar sesuai waktu dan tidak ambil banyak kelas....duh itu ngena banget buat saya yang kadang kalap ambil banyak kelas eh ujung ujungnya keteteran...hehe..harus mendisiplinkan diri untuk mengikuti arahan mba Nia di artikel ini niih...keren banget.

    BalasHapus
  4. Ini saya banget...kalau ambil kelas suka banyak suka kalap ujung ujungnya keteteran..hehe

    BalasHapus
  5. Aku juga kalau mengikuti kelas berbayar sangat mempertimbangkan bisa mengerjakan tugas dengan baik. Karena sudah bayar mahal sayang sekali kalau terlewatkan begitu saja. Aku belum pernah nulis cerita anak, kayakan ya boleh pankapan sharing di group mbak hehe

    BalasHapus
  6. Menulis cerita anak memang sangat menantang dan gampang-gampang susah. Bagi saya pribadi lumayan butuh effort extra untuk memposisikan diri dalam sebuah karakter anak dengan mengekspresikan bahasa sederhana yang sesuai dengan tingkatan usia

    BalasHapus
  7. Perlu semakin banyak buku2 anak yang mendunia saat ini spy minat baca anak tetap terjaga, layaknya kisah2 lima sekawan dan buku2 karangan Enid Bylton lainnya.

    BalasHapus
  8. Bagi saya genre cerita anak adalah genre yang paling susah. Pernah coba, tapi kok malah kayak mengguruibanget. Akhirnya sadar saya nggak cocokdi genre itu.Tapi memang bener, klo ikut kelas, kelas apapun itu, pastikan kalau memang punya waktu untuk mengerjakan tugas.

    BalasHapus
  9. Pengen bikin gt ya mba, cuma aku kadang kurang suka baca non fiksi..

    BalasHapus
  10. Pengen bikin mba, cuma gimana ya cara menumbuhkan kecintaan pada nonfiction

    BalasHapus
  11. Ikut banyak kelas juga memang bener sih, jadinya kurang baik juga karena pada dasarnya kapasitas daya serap kita tak sebanyak itu. Pada akhirnya jadi too much dan keteteran sendiri. Seneng deh sama tipsnya, jadi semangat buat lebih fokus kembali saat menulis

    BalasHapus
  12. Bener banget nih perlu mempertimbangkan waktu untuk mengerjakan tugas apalagi jika waktunya terbatas

    BalasHapus
  13. sudah pernah belajar nulis cerita anak, tinggal prakteknya saja. dan hasilnya juga waktu itu saya tulis di blog, ikut kelasnya kang ali.

    BalasHapus