Karena Titik Mulai Kita pun Berbeda

2013 silam, ketika karya saya pertama kali terbit di media, berhasil menerbitkan senyum dan bahagia luar biasa di dalam dada. Tiada disangka, karya saya akhirnya bisa lolos kurasi koran ternama di Sumatera Utara ini.

Jauh sebelum karya tersebut berhasil tayang sebenarnya langkah saya hampir terhenti setelah jeda beberapa waktu. Ketika banyak nama yang menjadi langganan tayang di koran hingga nama baru yang akhirnya menjadi langganan pula. Nama saya? Ah, sepertinya karya saya sangat jauh dari kata pantas untuk menghiasi salah satu rubrik koran.

Butuh waktu tak lama sampai akhirnya saya kembali memutuskan untuk mengirimkan naskah ke media. Setidaknya inilah rangkaian usaha yang saya lakukan sehingga rekam jejak karya hari ini menjadi nyata dalam hidup seorang Rekam Jejak Sang Pemimpi.



1. Menyibukkan diri dengan terus menebar iri positif


Ya, saya terus menyibukkan diri dengan iri pada pencapaian orang lain. Melihat nama mereka tertera di media setiap akhir pekan. Tapi, tunggu dulu! Saya tidak ter-distrack untuk kemudian berhenti menulis. Sebaliknya, saya terus mengukuhkan niat dan usaha. Saya masih ada kesempatan untuk menjadi salah seorang penulis di sana jika mau terus mencoba. Jika berhenti, kapan bisa karya saya ada di sana?

2. Tak jemu mencari informasi media baru


Jadi begini, tak sama seperti kini yang media banyak yang memberikan informasi lowongan menulis, zaman dahulu informasi ini hanyak tersedia di blog teman-teman blogger. Sayangnya, informasi tersebut tidak diperbaharui secara berkala.

Sebagai penulis pemula, saya tidak mengetahui sumber lain yang lebih valid. Jadilah pada masa-masa itu saya mengirim karya tanpa tahu info lebih lanjut apakah naskah saya tersebut dimuat atau tidak.

Namun rencana Allah memang sungguh luar biasa indah. Meski begitu, ada sja informasi yang datang melalui kotak masuk yang memberikan informasi tentang dimuatnya naskah saya di media, seperti ketika naskah saya tayang di Majalah Bobo, Majalah Reader Digest, dan bbeberapa koran lokal.

Saya memang tak jemu mencari informasi baru. Lebih-lebih kolom sastra yang biasanya memuat info pengiriman karya di bagian pojok rubrik tersebut.

3. Membuat blog sebagai media branding


2020 menjadi awal kebangkitan saya menulis blog dan berkeinginan menggunakan alamat blog TLD. Ini semua tak lepas dari peran komunitas menulis. Karena itu saya sangat menyarankan bagi teman-teman pendatang baru du dunia blogging, jangan berputus asa jika langkah ngeblog saat ini terasa bergerak lamban.

Tidak apa-apa karena pun semua orang pernah berada di titik pertama dalam hidup.

Blog membuat saya berkenalan dengan teman baru yang juga menjadi pejuang media. Lambat laun pertemanan dari media sosial fabebook, merambah ke blog, lalu ke Wa. Kami menjadi akrab sehingga sering bertukar informasi tentang info pemuatan di media.

4. Menyadari kapan waktu efektif untuk berkarya


Setiap penulis pasti punya waktu khusus untuk menulis, apalagi jika ia melakukan hobinya secara profesional. Saya pun demikian. Bagda isya adalah waktu terbaik saya jika tidak sedang mendapatkan sif malam.

Sebaliknya pagi hingga jelang ashar adalah waktu produktif jika mendapatkan sif malam.

Menyadari waktu terbaik ini membuat saya bisa menggunakan waku lainnya untuk prioritas lain pula.

5. Pencapaian orang lain adalah motivasi untuk berkarya ke depan


Setiap pengumuman lomba selalu nama si A yang ada? Nama kamu? Enggak ada seperti biasa :D

Saya sadar ya karena nggak kirim juga. Ada juga yang memang diniatkan untuk mendapatkan sejumlah view. Ada pula yang ditargetkan untuk mendapatkan uang sejumlah tertentu untuk sekian pengirim pertama.

Penutup


Terganggu dengan pencapaian orang sepatutnya tidak perlu terjadi jika kita menyadari potensi besar yang kita miliki.

Semua orang memiliki impian besar dengan langkah pencapaian berbeda. Kita boleh fokus pada pencapaian orang lain bukan untuk membuat diri kita merasa kecil, tetapi untuk ‘mencuri’ langkah besar mereka untuk memulai langkah kecil kita. (*)
Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com Selain di sini, saya juga menulis di Rekam Jejak Sang Pemimpi, Ketika Jejakku Menginspirasimu, Berlayar & Menambatkan Impian, Meniti Jembatan Impian, Jejak Inspirasi Sylviany, Cakrawala Baca Sylvia

Posting Komentar untuk "Karena Titik Mulai Kita pun Berbeda"