Jangan Sampai Terulang! Ini 5 Kesalahan Menulis Cerpen Anak Islami

Perjalanan tips menulis cerpen anak islami semakin seru. Kali ini kita akan mengulas tentang apa saja kesalahan menulis cerpen anak islami. 

Mengapa kita perlu membahas hal ini? Tentu saja karena nggak banget kan setelah kita menulis berlembar-lembar cerpen, tiba-tiba harus gagal tayang di media atau (amit-amit) kena hujat dikarenakan ada kata, alur, dan lainnya yang bertentang dengan nilai yang seharusnya dijunjung dalam cerpen anak islami.

Kesalahan Menulis Cerpen Anak Islami, Jangan Sampai Tidak Disadari


Kesalahan Menulis Cerpen Anak Islami


Kesalahan ini terkadang bisa saja terjadi karena penulis tidak melakukan swasunting pada naskahnya. Sebab buru-buru kirim karena hampir menyentuh DL bisa jadi menjadi salah satu penyebab. Yuk, kita lanjutkan pembahasan!

Tidak Memasukkan Unsur Islami


Kita menulis naskah cerpen anak islami. Jika unsur ini justru hilang, bagaimana mungkin naskah kita dikategorikan cerpen anak islami. Unsur islami ini tidak melulu menampilkan ayat Quran dan hadis. Bisa pula dengan memasukkan unsur kebaikan itu secara langsung atau tidak langsung. Kita sebagai penulis bisa memberikan kebebasan kepada pembaca untuk menyimpulkan ayat mana yang kita angkat.

Ohya, ini bisa pula menjadi sarana mengajar Bapak dan Ibu pengajar, lo. Misalnya anak diminta menyampaikan ayat Quran dan hadis apakah yang digunakan dalam cerita? Setelahnya kita bisa membantu anak untuk terus terlibat dalam cerita. Misalnya, kita bisa membuat pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan jika anak membaca cerpen anak islami dengan saksama.

Memunculkan Karakter Orang tua sebagai Penyelesaian Cerita


Dalam bimbingan dan teknik penulisan dan penerjemahan cerita anak 2024 lalu, lagi-lagi untuk tidak memasukkan karakter orang tua sebagai poros utama penyelesaian cerita sangat tidak dianjurkan. Jika terjadi, keadaan ini disebut deus ex machina.

Dilansir dari Wikipedia, deus ex machina.adalah sebuah perangkat alur dimana sebuah masalah yang tampak tak terpecahkan dalam sebuah cerita secara mendadak dan rancu terpecahkan oleh sebuah kejadian tak terduga, biasanya membuat banyak orang terkejut.

Keadaan ini ditandai dengan kata “tiba-tiba”. Ada trik khusus jika keadaan “tiba-tiba” ini ingin tetap dimasukkan. Misalnya dengan menambahkan efek foreshadow dalam ilustrasi. Jadi, tokoh yang juga berpengaruh dalam cerita ini ditampilkan seolah tidak berguna. Namun di akhir cerita peran tokoh tersebut bisa jadi menjadi solusi dari problem yang melingkupi seluruh cerita.

Mengirim Cerpen Anak Islami ke Media yang Salah


Meski naskah kita sangat kental muatan islaminya, bukan berarti naskah tersebut bisa dikirimkan ke sembarang media. Ada media yang dikhususkan untuk agama tertentu saja. Jadi naskah yang dimuat punya harus punya warna seperti itu. Tentu saja naskah cerpen anak islami kita langsung terdepak begitu sampai di kotak masuk surel tim redaksi.

Untuk mengetahui hal ini sobat bisa mengecek langsung di majalah, koran, buku terbit dan apapun itu media yang dituju. Jika berbentuk web, tentu bisa diakses lebih mudah dari ponsel. Jika masih belum ketemu juga ‘warna’ tersebut, bisa jadi media tersebut memuat naskah dengan tema umum. Jadi, naskah kita masih masuk kategori yang dicari dan aman untuk dikirimkan.

Jeli memperhatikan hal ini akan membuat peluang naskah kita lolos menjadi lebih terbuka lagi.

Ohya, sobat bisa juga berdiskusi dengan teman sesama penulis terkait hal ini. Karena bisa jadi mereka lebih berpengalaman terhadap media yang kita sasar. Siapa tahu kita malah kebagian tips dan trik pengiriman naskah. Wah, bisa-bisa naskah kita terbit dalam waktu dekat ini!

Memasukkan Unsur yang Bertentangan dengan Unsur Islami


Jika sebelumnya kita tidak memasukkan unsur islami, justru di sini kita berlebihan menulis naskah. Ingat bahwa ini adalah cerpen anak islami. Jadi harus ada unsur islami dan hindarkan dari hal yang bertentangan dengannya.

Kita bisa saja menuliskan naskah secara umum untuk media islami karena unsur islami tidak harus disampaikan secara langsung. Bisa pula lewat nilai kebaikan yang coba ingin disampaikan kepada pembaca melalui cerita.

Tidak Melakukan Swasunting Naskah


apa-saja-kesalahan-swasunting-naskah


Tidak dapat dimungkiri pada suatu ketika kita melakukan salah satu kesalahan pada poin sebelumnya. Sobat bisa meminimalisir hal ini dengan melakukan swasunting naskah sebelum kirim ke media. Oleh sebab itu jangan mengirim naskah di akhir-akhir penutupan ya, Sob!

Jika mepet deadline tidak bisa dihindari, cobalah untuk secara cepat melakukan swasunting begitu naskah hendak dikirim. Jangan sampai karena kesalahan sedikit dalam tulisan, peluang naskah dimuat di media pun lenyap.

Nah, sobat demikian kesalahan menulis cerpen anak islami, jangan sampai tidak disadari sehingga berakibat fatal pada karier kepenulisan.

Apakah sobat pernah menulis cerpen anak islami? Apakah pernah mengalami kendala dalam proses penulisan? Bagaimana tips mengatasi kendala tersebut? Yuk, berbagi di kolom komentar! (*)
Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com Selain di sini, saya juga menulis di Rekam Jejak Sang Pemimpi, Ketika Jejakku Menginspirasimu, Berlayar & Menambatkan Impian, Meniti Jembatan Impian, Jejak Inspirasi Sylviany, Cakrawala Baca Sylvia

Posting Komentar untuk "Jangan Sampai Terulang! Ini 5 Kesalahan Menulis Cerpen Anak Islami"