Menulis Cerita Anak untuk Penerbit, Miliki Buku Impian!

Setelah menulis dan mengirimkan cerita anak untuk media cetak dan media elektronik, kini saatnya kita melangkah lebih jauh, yakni menulis dan mengirimkan cerita ana untuk penerbit. Apakah sobat sudah sampai di tahap ini?

Kebanyakan penulis pendatang baru menganggap memiliki buku solo adalah saat di mana apa yang ia lakukan selama ini mendapatkan apresiasi lebih. Saya kini menjadi penulis yang sesungguhnya! Apakah sobat sepakat dengan pendapat ini?

Hampir sama dengan menulis cerita anak untuk media cetak dan media elektronik, menerbitkan buku anak juga bukan perkara gampang yang bisa terkabul dalam satu malam.

Kirim Naskah ke Penerbit Buku? Cek Ini Dulu, Ya!


Kirim Naskah ke Penerbit Buku


Sayangnya banyak penulis cerita anak pendatang baru yang keburu tumbang sebelum melangkah lebih jauh lagi. Yuk, perhatikan hal-hal berikut ini yang bisa menjadi fokus perhatian saat mengirimkan naskah cerita anak ke penerbit!

Cek penerbit


Poin pertama adalah mengecek penerbit. Apakah mereka membuka lowongan penerimaan naskah buku anak? Karena, ada, lo, penerbit yang hanya menerima karya dari penulis yang memang sengaja sudah mereka kontak sebelumnya.

Dengan kata lain, penerbit sudah mempercayakan naskah mereka kepada penulis senior. Buat penulis pendatang baru tentu akan sia-sia saja jika memaksakan diri mengirimkan naskah ke penerbit seperti ini, ya!

Bagaimana cara mengetahui perihal ini? Sobat bisa cek di akun media sosial mereka, apakah pernah ada info penerimaan naskah untuk umum? Jika tidak ditemukan, boleh kok mengirimkan pesan di akun media sosial mereka. Lebih baik bertanya daripada tersesat saat mengirim karya, bukan?

Cek sistem pembayaran


Ini juga pelu, terlebih apabila sobat membutuhkan pembayaran dalam waktu cepat. Jangan mengirimkan naskah kepada penerbit yang memberlakukan sistem royalti jika sobat ingin uang lebih cepat. Jika karya kita dibukukan, akan butuh waktu untuk menerima royalti. Lagi pula jumlah ini tergantung pada jumlah buku yang terjual. Jadi, jumlahnya tidak dapat ditentukan banyak atau sedikitnya.

Pilihlah penerbit yang memberlakukan sistem pembayaran jual putus jika sahabat sedang butuh uang. Penerbit akan langsung melunasi perihal penerbitan buku kita.

Tentu saja baik sistem royalti dan jual putus memiliki nilai plus dan minus yang bisa sobat pertimbangkan sesuai kebutuhan.

Cek pemberitahuan penerimaan


Mengapa ini penting? Sebab kita adalah calon penulis yang tidak ingin berhenti mengirimkan naskah pada satu penerbit saja, bukan? Jika setelah mengirimkan naskah pada satu penerbit lalu kita bersifat pasif, yakni menunggu saja kabar diterbitkan atau tidak, ini akan menyebabkan kekakuan pada proses menulis selanjutnya.

Terlupa terus pun pada naskah yang sudah dikirimkan pada penerbit juga kurang baik. Oleh sebab itu diperlukan informasi yang jelas, sehingga calon penulis cerita anak pendatang baru bisa mengetahui lebih jelas tentang naskah mereka.

Fasilitas penerbit


Kita sudah mengirimkan naskah. Untuk selanjutnya kita harus mengetahui apakah fasilitas yang diberikan oleh penerbit. Jika itu adalah penerbit mayor, kita bisa memperkirakan benefits yang ia berikan selaku penerbit.

Bagaimana jika ia bukan penerbit mayor yang memerlukan peranan penulis lebih besar lagi untuk mempromosikan bukunya?

Penulis harus bisa bekerja sama dengan penerbit dalam dalam hal ini karena kesuksesan penerbitan sebuah buku tergantung pada hal ini.

Kebutuhan ilustrator


ilustrator buku anak


Karena naskah yang kita kirimkan adalah buku anak, ilustrasi menjadi penting kita pertimbangkan. Buku anak memiliki sisi unik berupa materi gambar yang dominan.

Jangan abaikan karena ini memegang kendali yang cukup besar terhadap masa depan buku.

Buku anak yang didominasi gambar bisa menarik perhatian calon pembeli buku. Apalagi jika buku ini dikhususkan untuk anak jenjang pembaca awal.

Bujet urusan ilustrasi juga perlu dipertimbangkan karena ada penerbit yang mempercayakan hal ini pada penulis. Artinya, penulislah yang bertanggung jawab mencari ilustrator jika naskahnya diterima.

Ada pula penerbit yang mengambil tanggung jawab ini. Mereka akan memberikan sejumlah pilihan nominal berupa persen yang bisa dipilih penulis. Apakah ia bersedia memberikan sekian persen royalti kepada ilustrator atau tidak.

Menjadi penulis pendatang baru memang kerap membuat para penulis cukup terkejut. Ternyata proses penerbitan buku tidak berakhir ketika buku selesai ditulis.

Berhubungan dengan penerbit juga tak semudah menyerahkan buku lalu siap menerima keputusan diterima atau ditolak. Masih ada kebutuhan promosi dan ilustrasi yang tak boleh dilupakan.

Apakah hal ini membuat semangat menulis cerita anak menjadi kendor? Harusnya tidak, ya sebab menulis apapun itu sejatinya memang memerlukan tantangan. Hanya saja masing-masing tantangan itu unik. Kita hanya perlu semangat melewati rangkaian tantangan tersebut untuk mendapatkan hasil terbaik.

Apakah sobat pernah menulis cerita anak dan mengirimkannya ke penerbit buku? Bagaimana kesan sobat terhadap hal tersebut? Jika sudah berhasil diterbitkan, proses apakah yang selanjutnya harus sobat hadapi? Yuk, berbagi di kolom komentar! (*)
Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com Selain di sini, saya juga menulis di Rekam Jejak Sang Pemimpi, Ketika Jejakku Menginspirasimu, Berlayar & Menambatkan Impian, Meniti Jembatan Impian, Jejak Inspirasi Sylviany, Cakrawala Baca Sylvia

Posting Komentar untuk "Menulis Cerita Anak untuk Penerbit, Miliki Buku Impian!"