Menulis untuk Merawat Ingatan, Benarkah?

Hari ini saya dan teman blogger kembali berkesempatan mengikuti webinar ngeblog bertajuk Ngeblog untuk Pemula dengan pembicara Mbak Rach Alida Bahaweres yang saat ini menjabat sebagai ketua umum KEB.

Online workshop yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB itu memberikan banyak insight baru terkait menulis di blog. Ya, meskipun saya sudah mulai ngeblog sejak 2013-an, hingga sekarang saya masih saja ‘haus’ akan ilmu blogging, sekalipun bertajuk ‘pemula.’

Nyatanya benar, saya mendapatkan pengetahuan baru, salah satu adalah pernyataan bahwa menulis untuk merawat ingatan. Hemat saya, hal ini berkaitan dengan healing. Pernahkah teman-teman merasakan sebuah hal yang melegakan ketika menulis.

Atau teman adalah seseorang yang lebih sering terlupa akan satu hal? Menulis bisa sebagai salah satu cara merawat ingatan.

Mengapa Menulis Dapat Merawat Ingatan


Pikiran kita punya keterbatasan, tulisan yang mengabadikan

1. Kisah Perjalanan


Sering kali dalam kisah perjalanan kita menangkap banyak momen. Jika itu tersimpan dalam memori hp bisa jadi seiring berjalannya waktu, foto-foto tersebut akan terkubur. 

Saat memori hp penuh, kita pun menghapus gambar dalam jumlah banyak. Siapa tahu tanpa sengaja gambar kenangan tersebut ikut terhapus. Wah, tentu sangat disayangkan.

Hal ini menjadi berbeda cerita jika kita menuliskan cerita kenangan lengkap dengan dokumentasi gambar yang kita miliki. Tulisan bisa lebih lengkap dalam mendeskripsikan gambar. Apa yang mungkin tidak tergambarkan, dapat dilukiskan dalam untaian kata-kata.

Bila ini kita tuliskan di blog, dengan satu kata kunci, kita bisa membaca kembali kisah tersebut, bernostalgia dengan kenangan yang indah di dalamnya hingga kita tak akan melewatkan rangkaian kisah perjalanan tersebut sampai kapanpun.

2. Kisah Bahagia


Prestasi adalah hal yang sangat kita impikan dapat tercapai. Momen ini dapat membangkitkan semangat kita dalam meraih impian selanjutnya. Menuliskan kisah bahagia ini sebagai sebuah pengingat bahwa kita pernah berada di titik terbaik dalam hidup.

Hal ini bisa pula manajer portofolio kita ketika ingin mendapatkan satu posisis lebih dalam suatu hal, misalnya mengikuti lomba dan lainnya.

Dalam kehidupan, kita bisa menunjukkan jejak prestasi ini pada anak cucu. Hal ini diharapkan dapat menginspirasi mereka untuk mengikuti bahkan melebihi prestasi yang saat ini kita raih

3. Kisah Sedih


Kesedihan dalam hidup acapkali membuat kita terpuruk. Merasakan bahwa kita sedang berada di titik terendah dalam hidup. Ini akan menjadi berbeda ketika kita menuliskannya. Seolah ada beban besar yang akhirnya terhempas. Melebur dalam lautan kata-kata.

Bagaimana jika tulisan tersebut kita tayangkan dan akhirnya menuai komentar dari pembaca. Jadilah penulis bijak yang mau menerima kritik dan saran membangun dari pembaca, baca apa yang menjadi pendapat mereka, cermati dan diambil setiap hikmah yang ada di dalamnya.

Menulis kisah sedih menjadi prasasti bahwa kita pernah berada dalam fase itu sekitar waktu yang lalu. Semangatkan dan jadikan ia prasasti saat kita berada di fase kehidupan selanjutnya.

Menulis untuk merawat ingatan pada dasarnya bisa jadi seperti membuat prasasti kehidupan. Dalam perjalanan ini kita akan menemui banyak momentum yang terlalu sulit jika hanya dilimpahkan pada pikiran untuk mengingatnya.

Pikiran kita punya keterbatasan, tulisan yang mengabadikan. 

Tak soal bila itu tentang kesenangan bahkan kesedihan. Melalui tulisan kita bisa mencurahkan perasaan sehingga timbul hal melegakan. Lebih dari itu di masa depan kita bisa membacanya kembali dan menemukan banyak kepingan hikmah. (*)
Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com Selain di sini, saya juga menulis di Rekam Jejak Sang Pemimpi, Ketika Jejakku Menginspirasimu, Berlayar & Menambatkan Impian, Meniti Jembatan Impian, Jejak Inspirasi Sylviany, Cakrawala Baca Sylvia

2 komentar untuk "Menulis untuk Merawat Ingatan, Benarkah?"

  1. Wah, benar ya. Blog bagiku adalah menulis banyak oengalaman hidup , biar suatu saat masih bisa dilihat dan dibaca dan memori akan muncul kembali

    BalasHapus
  2. Naaah inii, kenapa aku menulis blog selama ini, sebenarnya tujuan awal memang supaya ga lupa mba. Aku pelupa bgt orangnya. Trus pas mulai rutin traveling, kepikiran, sayang kan kalo semua pengalaman jalan2ku, apalagi yg ke negara2 antimainstream, terlupakan gitu aja.

    Akhirnya coba2 nulis dalam niche traveling. Sebelumnya aku nulis blog, tapi lbh ke curhat.

    Akhirnya jd keterusan di niche traveling. Setidaknya kalo aku butuh informasi wisata ke suatu tempat yg aku pernah datangin, tapi lupa, kan bisa buka lagi blog sendiri 😁.

    BalasHapus